Bulan ECO Dhamma Nasional, PERMABUDHI Sulsel Canangkan Pesantren Al-Imam Ashim sebagai Kawasan Pendidikan Percontohan Pengelolaan Sampah Terpadu

Uncategorized24 Dilihat

PERMABUDHI Sul Sel bersama Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Imam Ashim menggelar kegiatan Bulan ECO Dhamma Nasional dengan tema “Sinergi Umat Beragama Menanam Harmoni untuk Bumi” di Kota Makassar, Minggu (17/5/2026).

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pencanangan kawasan pendidikan percontohan pengelolaan sampah terpadu dan Eco Pesantren pertama di Sulawesi Selatan. Acara  tersebut dihadiri berbagai unsur lintas agama, tokoh pendidikan, dan pemerintah sebagai bentuk kolaborasi nyata menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Kegiatan tersebut di hadiri langsung oleh Ketua DPD PERMABUDHI Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Ir. Yonggris, MM bersama Ny. Yonggris, Pembimas Buddha Provinsi Sulawesi Selatan Sumarjo, S.Ag., MM, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Dr. H. Ali Yafid, M.Pd.I, Kemeneg Kabupaten Gowa H. Jamaris, pimpinan pondok pesantren, tokoh agama, santri, serta pegiat lingkungan dan jajaran pengurus Permabudhi.

Dalam sambutannya, Ketua DPD PERMABUDHI Sulsel, Dr. Yonggris, menyampaikan apresiasi atas kerja sama seluruh pihak sehingga kegiatan ECO Dhamma Nasional dapat terlaksana dengan baik. Ia menegaskan bahwa menjaga bumi dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

“Kita punya kewajiban menjaga bumi agar tetap sehat. Jika lingkungan sehat, maka manusia juga akan sehat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, terdapat empat program utama yang dilaksanakan dalam kegiatan tersebut, yakni pencanangan Eco Pesantren, penghijauan kawasan pesantren, edukasi lingkungan, dan peresmian biopori sebagai sarana pengolahan sampah organik.

Menurutnya, Pondok Pesantren Al-Imam Ashim dipilih menjadi Eco Pesantren percontohan pertama di Sulawesi Selatan karena memiliki potensi besar untuk pengembangan pendidikan berbasis lingkungan hidup. “Kami ingin pesantren ini menjadi contoh bagi sekolah, pesantren, dan rumah ibadah lainnya dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, sebanyak 100 pohon buah, tanaman pelindung, dan tanaman bunga ditanam di area pesantren guna menciptakan lingkungan hijau dan sehat.

PERMABUDHI juga meresmikan fasilitas biopori untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos yang nantinya dimanfaatkan bagi kebutuhan pesantren.

Dr. Yonggris menambahkan, kegiatan ECO Dhamma merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era. Ia menekankan pentingnya pembentukan karakter peduli lingkungan sejak dini melalui pendidikan.

“Yang paling penting bukan sekadar teori tentang lingkungan, tetapi bagaimana membentuk karakter dan perilaku ramah lingkungan pada anak-anak,” katanya.

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Al-Imam Ashim KH. Syam Amir Yunus, SQ menyampaikan bahwa persoalan kerusakan lingkungan saat ini menjadi tanggung jawab bersama akibat ulah manusia.

Ia mengutip pesan moral tentang pentingnya menjaga bumi dan menghindari kerusakan lingkungan demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.

“Kerusakan lingkungan di darat maupun di laut terjadi akibat ulah manusia. Karena itu kita harus bersama-sama mengembalikan fungsi alam,” ujarnya.

KH. Syam Amir Yunus juga mengungkapkan rasa syukur atas berkembangnya pesantren yang kini memiliki lebih dari 50 santri dari berbagai daerah.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, menyatakan bahwa program Eco Pesantren sangat sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam membangun kesadaran spiritual sekaligus kepedulian lingkungan.

Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga wadah pembentukan karakter cinta lingkungan dan kepedulian sosial.

“Persoalan lingkungan hidup merupakan bagian dari pendekatan spiritual. Kita harus membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan,” jelasnya.

Ia juga menilai pengolahan sampah organik melalui eco enzyme dan biopori memiliki manfaat besar bagi kehidupan pesantren maupun masyarakat luas.

Pengelolaan sampah seperti ini dapat menjadi bagian pemberdayaan ekonomi pesantren karena sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai,” tambahnya.

Dalam sesi edukasi lingkungan, Ketua PERMABUDHI Kota Makassar Suzanna, SE., M.Pd memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan sampah plastik dan pengolahan sampah rumah tangga agar memiliki nilai ekonomi serta mengurangi pencemaran lingkungan.

Sementara itu, perwakilan pesantren menyampaikan harapan agar program Eco Pesantren dapat diterapkan secara luas di berbagai pondok pesantren di Sulawesi Selatan. Saat ini tercatat sekitar 33 pondok pesantren terdaftar di wilayah Makassar dan sekitarnya yang diharapkan dapat ikut mengembangkan konsep pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut ditutup dengan penanaman pohon bersama, peresmian biopori, serta komitmen lintas agama untuk terus bersinergi menjaga bumi melalui pendidikan, pengelolaan sampah terpadu, dan pembentukan karakter cinta lingkungan.

Melalui program ECO Dhamma Nasional ini, PERMABUDHI Sulsel berharap Pondok Pesantren Al-Imam Ashim dapat menjadi pusat edukasi lingkungan hidup berbasis pesantren sekaligus contoh nyata harmonisasi antarumat beragama dalam menjaga kelestarian alam di Sulawesi Selatan.

Jumriati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *