Jakarta, 28 April 2026 – Di tengah kondisi pasar kripto yang masih fluktuatif akibat tekanan global, Tokocrypto mendorong investor untuk menerapkan strategi investasi yang lebih adaptif sekaligus memperkenalkan inovasi terbaru melalui program Referral 2.0. Program ini hadir sebagai upaya memperluas adopsi aset digital sekaligus memberikan peluang tambahan bagi pengguna untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas trading.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor aset kripto di Indonesia telah melampaui 21 juta akun pada awal 2026. Hingga Februari 2026, jumlah investor tercatat mencapai 21,07 juta akun, meningkat dari Januari yang sebesar 20,70 juta akun. Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem kripto tetap kuat meski pasar mengalami dinamika.
Namun, di tengah pertumbuhan jumlah investor, aktivitas perdagangan justru mengalami penurunan. Nilai transaksi kripto pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp29,4 triliun, turun dari Januari yang mencapai Rp37,29 triliun. Penurunan juga terjadi pada kapitalisasi pasar yang menyusut sekitar 14 persen menjadi Rp23,59 triliun. Kondisi ini mencerminkan bahwa pergerakan pasar kripto masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan bahwa volatilitas yang terjadi saat ini tidak terlepas dari faktor makroekonomi dan geopolitik global. “Ketegangan geopolitik seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta konflik di Timur Tengah mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global. Ditambah dengan kebijakan suku bunga tinggi di AS, likuiditas global menjadi lebih ketat sehingga memicu tekanan di pasar kripto,” ujar Calvin.
Ia menambahkan bahwa fluktuasi yang terjadi merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar. “Jika melihat tren beberapa tahun terakhir, lonjakan aktivitas pada 2024 dipicu oleh momentum Bitcoin halving, peluncuran ETF di AS, dan efek domino terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS. Sementara penurunan di 2025 hingga awal 2026 lebih merupakan fase normalisasi dan konsolidasi, bukan pelemahan fundamental industri. Fluktuasi ini menunjukkan bagaimana pergerakan harga kripto sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi global maupun domestik,” lanjutnya.
Minat Investor Bergeser, Strategi Perlu Disesuaikan
Perubahan kondisi pasar juga diikuti dengan pergeseran perilaku investor. Penurunan volume di pasar spot mulai diimbangi dengan meningkatnya minat terhadap instrumen derivatif, yang dinilai lebih fleksibel dalam menghadapi volatilitas. Instrumen ini memungkinkan pelaku pasar untuk mengambil posisi berdasarkan pergerakan harga tanpa harus memiliki aset secara langsung.
Data menunjukkan bahwa volume perdagangan di pasar spot mengalami penurunan dari Rp24,33 triliun pada Februari menjadi Rp22,2 triliun pada Maret. Sebaliknya, pasar derivatif justru mencatatkan pertumbuhan, dari Rp3,88 triliun pada Februari menjadi Rp4,36 triliun pada Maret. Tren ini mengindikasikan adanya pergeseran minat investor menuju instrumen yang lebih adaptif terhadap kondisi pasar yang tidak stabil.
“Kami melihat adanya pergeseran preferensi dari spot ke derivatif karena investor mencari instrumen yang lebih fleksibel dalam menghadapi pergerakan harga yang cepat. Derivatif memberikan opsi strategi yang lebih beragam, baik saat pasar naik maupun turun,” jelas Calvin.
Melihat tren tersebut, Calvin mengungkapkan rencana untuk meluncurkan produk derivatif dalam waktu dekat. Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin berkembang serta memberikan lebih banyak pilihan strategi bagi pengguna.
“Pertumbuhan volume derivatif ini menjadi sinyal bahwa pasar semakin matang. Ke depan, kami ingin menghadirkan produk derivatif yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga mudah diakses oleh pengguna ritel, sehingga mereka bisa mengelola risiko dengan lebih baik di tengah kondisi pasar yang dinamis,” tutup Calvin.
Tokocrypto Perkuat Ekosistem Lewat Program Referral
Selain pengembangan produk, Tokocrypto juga menghadirkan fitur baru Referral 2.0 sebagai bagian dari strategi memperluas partisipasi masyarakat di industri kripto. Melalui program ini, pengguna dapat memperoleh komisi hingga 20 persen seumur hidup dari trading fee referral, sekaligus berkesempatan mengumpulkan reward tambahan dengan total hingga Rp200 juta setiap bulannya.
Program ini dirancang untuk memberikan insentif yang lebih kompetitif sekaligus mendorong pertumbuhan komunitas pengguna secara organik. Kuota reward yang terbatas setiap bulan juga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif pengguna dalam memanfaatkan fitur tersebut.
Calvin menilai bahwa inisiatif ini menjadi bagian dari upaya Tokocrypto dalam memperkuat literasi dan adopsi kripto di Indonesia. “Kami melihat minat masyarakat terhadap aset digital terus meningkat dan mulai mendekati pasar modal. Melalui program referral 2.0 dan pengembangan produk seperti derivatif, kami ingin memberikan lebih banyak akses dan peluang bagi masyarakat untuk terlibat di ekosistem kripto secara lebih luas,” jelasnya.
Di tengah pasar yang masih dinamis, Tokocrypto menekankan pentingnya pendekatan investasi yang disiplin dan berbasis strategi. Dengan kombinasi edukasi, inovasi produk, serta program insentif seperti referral, perusahaan optimistis dapat mendorong pertumbuhan industri kripto yang lebih sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
