Kepala Sekolah SD Negeri Tamalanrea Makassar Dukung Program Pilah Sampah, Siapkan Sekolah Menuju Adiwiyata Nasional

Uncategorized26 Dilihat

Makassar, 31 Juli 2026 – Kepala sekolah SD Negeri Tamalanrea Makassar, Agustina Katindo, S.Pd, menyatakan dukungan penuh terhadap program Pemerintah Kota Makassar dalam pengelolaan sampah melalui gerakan memilah sampah dari sumbernya. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menyukseskan program tersebut melalui edukasi dan pembiasaan kepada seluruh warga sekolah.

Saat ditemui di Kepala sekolah SD Negeri Tamalanrea Makassar, Jumat (31/7/2026), Agustina mengatakan bahwa sebagai kepala sekolah yang baru dilantik, dirinya berkewajiban mendukung program prioritas Wali Kota Makassar untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“TPA saat ini menjadi perhatian serius pemerintah. Karena itu kami mendukung program Wali Kota Makassar dengan mulai membiasakan seluruh warga sekolah memilah sampah organik, anorganik, dan limbah B3. Nantinya hanya sampah residu atau sampah yang sudah tidak dapat diolah lagi yang dibawa ke TPA,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak mulai bertugas di SD Negeri Tamalanrea Makassar, pihaknya langsung mengarahkan petugas kebersihan dan seluruh warga sekolah agar tidak lagi mencampur semua jenis sampah. Edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah juga diberikan setiap hari kepada peserta didik agar menjadi kebiasaan sejak usia dini.

Menurut Agustina, sampah plastik, kertas, dan berbagai bahan lainnya masih memiliki nilai ekonomi karena dapat didaur ulang maupun dijual kepada pengepul. Sementara itu, barang bekas yang masih layak dimanfaatkan dijadikan bahan pembelajaran melalui kegiatan keterampilan di sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, guru bersama siswa bahkan melibatkan orang tua untuk membuat berbagai hasil karya dari barang bekas, seperti tempat tisu dari gelas plastik, lampion dari sendok plastik sekali pakai, hingga busana berbahan limbah plastik yang dipamerkan dalam kegiatan gelar karya sekolah.

“Anak-anak harus dibiasakan melihat bahwa sampah bukan hanya untuk dibuang, tetapi bisa diolah menjadi karya yang bermanfaat bahkan memiliki nilai ekonomi,” katanya.

Agustina mengungkapkan bahwa kepeduliannya terhadap lingkungan telah dibuktikan sejak memimpin sekolah sebelumnya. Saat menjabat kepala sekolah di SD Bum, sekolah berhasil meraih penghargaan Adiwiyata Kota. Selanjutnya ketika memimpin SD Tamalate selama enam tahun, sekolah kembali berhasil memperoleh penghargaan Adiwiyata hingga tingkat nasional.

Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membangun budaya peduli lingkungan di SD Negeri Tamalanrea Makassar. Ia menargetkan sekolah yang kini dipimpinnya dapat mengikuti penilaian Adiwiyata Nasional pada tahun mendatang.

Menurutnya, untuk mencapai predikat Adiwiyata diperlukan kesiapan administrasi sekaligus sarana pendukung di sekolah, seperti greenhouse, kebun sekolah, tanaman obat keluarga (TOGA), Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), lubang biopori, komposter, serta fasilitas pengelolaan sampah lainnya.

“Perlu ada sarana Adiwiyata sebagai media belajar sehingga anak-anak dapat belajar secara langsung tentang cara menjaga lingkungan, mengolah sampah, membuat kompos, memanfaatkan biopori, hingga mengenal berbagai tanaman di sekolah,” jelasnya.

Selain itu, sekolah juga berencana membangun Teba (Tempat Olah Sampah Organik) sebagai teknologi pengolahan sampah basah, terutama untuk mengelola sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan tidak seluruhnya dibuang ke TPA.

Agustina juga menceritakan pengalaman sekolah yang dipimpinnya saat mengikuti Program Sekolah Ramah Anak pada 2024. Dalam program tersebut, guru, siswa, dan orang tua membuat ecobrick, yaitu botol plastik bekas yang diisi padat dengan sampah plastik kemasan makanan kemudian disusun menjadi meja baca dan kursi di perpustakaan ramah anak.

Keikutsertaan dalam program tersebut juga mengantarkan sekolah memperoleh bantuan buku “Bacaan Bermutu” dari pemerintah pusat sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan budaya literasi.

Menurut Agustina, keberhasilan program sekolah sehat, Adiwiyata, maupun gerakan pilah sampah hanya dapat dicapai melalui kerja sama seluruh Pihak sekolah.

“Kalau semua guru, tenaga kependidikan, siswa, dan orang tua mau bekerja sama, tidak ada yang sulit. Sekolah sehat dan Adiwiyata berjalan seiring dengan pengelolaan sampah yang baik. Karena itu kami mendukung penuh program Pemerintah Kota Makassar menuju kota yang bersih, sehat, dan bebas sampah,” pungkasnya.

Jumriati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *