AICX 2026 oleh ITSEC Asia (IDX: CYBR): Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Ancaman Siber dari Komputasi Kuantum Sekarang

Ekonomi17 Dilihat

Para pembicara dari ITB, BRIN dan KORIKA dalam AICX 2026 oleh ITSEC Asia menyerukan persiapan dini menuju kriptografi pasca kuantum, seiring teknologi kuantum mulai menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan bagi AI.

Bali, 20 Oktober 2026 – PT ITSEC Asia Tbk (ITSEC Asia) (IDX: CYBR), perusahaan terkemuka di bidang keamanan siber dan AI di Indonesia, mempertemukan para ahli dari kalangan akademisi, peneliti dan industri dalam AICX 2026 untuk membahas kesiapan Indonesia menghadapi perkembangan komputasi kuantum. Komputer kuantum saat ini memang belum mampu memecahkan enkripsi RSA yang digunakan secara luas. Namun, organisasi perlu mulai bersiap karena data terenkripsi yang dikumpulkan hari ini berpotensi menjadi sasaran dekripsi di masa depan seiring kemajuan teknologi kuantum.

Risiko ini dikenal sebagai “harvest now, decrypt later”, yaitu ketika pihak yang tidak bertanggung jawab mengumpulkan data terenkripsi saat ini dengan harapan dapat membukanya di kemudian hari. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, organisasi perlu memahami sistem kriptografi yang mereka gunakan, mengidentifikasi data yang membutuhkan perlindungan jangka panjang serta merencanakan transisi menuju metode enkripsi yang dirancang untuk menghadapi serangan berbasis komputasi kuantum.

Isu ini menjadi fokus sesi panel AICX 2026 bertajuk “Beyond the Cryptographic Cliff: Quantum, Cyber and The Next Defense” yang diselenggarakan ITSEC Asia di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. Diskusi tersebut menghadirkan perspektif dari kalangan akademisi, peneliti dan ekosistem teknologi mengenai dampak komputasi kuantum terhadap keamanan siber serta kesiapan Indonesia menghadapi perkembangan tersebut.

“Persiapan menghadapi ancaman kuantum harus dimulai sekarang, bukan menunggu hingga komputer kuantum mampu memecahkan sistem enkripsi yang kita andalkan. Organisasi perlu memetakan sistem kriptografi yang digunakan, mengidentifikasi data paling kritis dan mulai merencanakan transisi menuju post-quantum cryptography. Proses migrasi ini membutuhkan waktu. Semakin awal kita mempersiapkannya, semakin baik kesiapan kita dalam melindungi aset digital. Hal yang sama berlaku untuk AI. Model dan data yang sedang dikembangkan organisasi saat ini membutuhkan perlindungan yang tetap relevan di era kuantum,” ujar Marek Bialoglowy, Vice President Director/CTO sekaligus Co-Founder ITSEC Asia.

Prof. Andriyan Bayu Suksmono, Guru Besar di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), menekankan pentingnya mempersiapkan diri terhadap kemungkinan perkembangan teknologi kuantum yang lebih cepat dari perkiraan.

“Kita harus sangat berhati-hati dalam menghadapi isu ini. Sejumlah prediksi memperkirakan terobosan komputasi kuantum akan terjadi pada 2030 hingga 2035, sementara prediksi lainnya menyebutkan waktu yang lebih lama. Menurut saya, kita perlu mempersiapkan diri dengan mengacu pada skenario paling awal, yaitu 2030. AICX 2026 oleh ITSEC Asia menjadi momentum untuk mempercepat pemahaman dan adopsi komputasi kuantum di Indonesia karena forum ini mempertemukan akademisi dan industri dalam satu ruang diskusi,” ujarnya.

Salah satu pendekatan untuk mengantisipasi risiko tersebut adalah post-quantum cryptography (PQC), yaitu metode kriptografi yang dirancang untuk menghadapi serangan dari komputer kuantum. Prof. Andriyan menjelaskan bahwa algoritma PQC dapat diterapkan pada perangkat yang digunakan saat ini, termasuk ponsel, komputer dan server. Pendekatan lainnya adalah quantum key distribution (QKD), yang memanfaatkan prinsip kuantum untuk mendukung distribusi kunci komunikasi yang aman.

Dr. Mohammad Hamzah Fauzi, Kepala Pusat Riset Fisika Kuantum di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti perubahan pesat dalam ekspektasi terhadap perkembangan teknologi kuantum.

“Pada 2018, saya menghadiri sebuah konferensi di Montpellier, Prancis. Saat itu, seorang fisikawan terkemuka ditanya kapan kita akan memiliki komputer kuantum yang benar-benar bermanfaat. Jawabannya adalah, ‘Tidak dalam masa hidup saya.’ Kini, prediksi tersebut mulai terbantahkan oleh kemajuan yang terus kita capai. Agar kemajuan ini dapat dirasakan oleh para pengguna, pusat riset seperti kami membutuhkan mitra dari industri keamanan. Kami senang ada perusahaan seperti ITSEC Asia yang bersedia bekerja sama dengan kami dalam hal ini,” ujarnya.

Persiapan menghadapi era kuantum juga membutuhkan investasi dalam riset, pendidikan dan pengembangan talenta. Penguasaan teknologi ini memerlukan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari fisika dan rekayasa hingga keamanan informasi dan pengembangan sistem digital.

Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), menyoroti relevansi teknologi kuantum bagi fondasi teknologi Indonesia di masa depan.

“Peta jalan AI saat ini belum mencakup teknologi kuantum, tetapi kuantum akan menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan bagi AI. Komputasi kuantum hanyalah salah satu dari teknologi baru yang perlu dikuasai Indonesia. Kami menyambut baik langkah ITSEC Asia, perusahaan yang telah bergerak di persimpangan AI dan keamanan, untuk mengangkat isu kuantum sejak sekarang, bukan setelah peta jalan selesai disusun,” ujarnya.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan kesiapan keamanan siber, kebijakan, riset dan talenta berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Kolaborasi antara industri, pemerintah, akademisi dan komunitas riset akan menjadi kunci dalam membangun ketahanan digital jangka panjang.

“AICX mempertemukan isu kuantum, AI dan keamanan siber dalam satu diskusi karena ketiganya perlu dipersiapkan dan diamankan secara bersama. Kami berterima kasih kepada ITB, BRIN dan KORIKA atas kontribusi keahlian mereka. ITSEC Asia akan terus bekerja sama dengan para mitra untuk meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi era kuantum,” tambah Marek.

Melalui AICX 2026, ITSEC Asia mendorong dialog lintas sektor mengenai tantangan keamanan yang muncul seiring perkembangan AI dan teknologi baru. Diskusi tentang komputasi kuantum menegaskan pentingnya langkah antisipatif untuk memperkuat pertahanan digital Indonesia dalam menghadapi risiko teknologi di masa depan.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *